Silakan Cari Disini :

Tampilkan postingan dengan label Kota Palu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kota Palu. Tampilkan semua postingan

Selasa, 15 Februari 2011

Palu Dan perkembangannya

JANUARI 2011 INFLASI SEBESAR 1,13 PERSEN

Perkembangan harga berbagai komoditas pada bulan Januari 2011 secara umum menunjukkan adanya kenaikan. Berdasarkan hasil pemantauan BPS pada bulan Januari 2011 terjadi inflasi sebesar 1,13 persen, dengan indeks dari 128,70 pada Desember 2010 menjadi 130,16 pada Januari 2011. Laju inflasi tahun kalender (Januari 2011) sebesar 1,13 persen, sementara laju inflasi “year on year” (Januari 2011 terhadap Januari  2010) sebesar  7,48 persen 

Inflasi terjadi karena adanya kenaikan indeks yang cukup tinggi pada Kelompok Makanan Jadi, Minuman, Rokok dan Tembakau sebesar 3,45 persen. Selain itu Kelompok Bahan Makanan, Kelompok Perumahan, Air, Listrik, Gas dan Bahan Bakar, dan Kelompok Transpor, Komunikasi dan Jasa Keuangan juga mengalami kenaikan indeks masing-masing sebesar 1,45 persen; 0,22 persen; dan 0,46 persen. Sementara Kelompok Sandang, Kelompok Kesehatan, dan Kelompok Pendidikan, Rekreasi dan Olahraga mengalami penurunan indeks masing-masing sebesar -0,18 persen; -0,88 persen; dan -0,06 persen


HASIL SENSUS PENDUDUK 2010 SULAWESI TENGAH
Hasil pencacahan Sensus Penduduk 2010 menggambarkan bahwa jumlah penduduk Provinsi Sulawesi Tengah (angka sementara) adalah sebanyak 2.633.420 orang, yang terdiri atas 1.349.225 orang laki-laki dan 1.284.195 orang perempuan. Dari hasil SP2010 tersebut jumlah penduduk terbesar berada di Kabupaten Parigi Moutong yaitu sebanyak 15,71 persen (413.645 orang). Tiga kabupaten yang memiliki jumlah penduduk paling sedikit adalah Kabupaten Buol, Kabupaten Tojo Una-una dan Kabupaten Banggai Kepulauan yaitu masing-masing sebanyak 132.381 orang (5,03 persen), 137.880 orang (5,24 persen) dan 171.685 orang (6,52 persen).
Dengan luas wilayah Provinsi Sulawesi Tengah sekitar 68.033,00 kilometer persegi yang didiami oleh 2.633.420 orang maka rata-rata kepadatan penduduk di Sulawesi Tengah adalah 39 orang per kilometer persegi. Kota Palu merupakan wilayah dengan kepadatan yang paling besar yaitu rata-rata 849 orang per kilometer persegi, sedangkan wilayah dengan kepadatan penduduk terendah adalah Kabupaten Morowali sebanyak 13 orang per kilometer persegi.


RASIO JENIS KELAMINRasio jenis kelamin penduduk Provinsi Sulawesi Tengah adalah sebesar 105, yang artinya bahwa jumlah penduduk laki-laki 5 persen lebih banyak dibandingkan jumlah penduduk perem?puan. Rasio jenis kelamin terbesar terdapat di 2 kabupaten yakni Kabupaten Morowali dan Kabupaten Poso sama besar, yakni 108 artinya bahwa di Kabupaten Morowali dan Kabupaten Poso, setiap 100 orang penduduk perempuan terdapat 108 orang penduduk laki-laki, sedangkan wilayah dengan rasio jenis kelamin terkecil adalah Kota Palu yaitu sebesar 102 atau setiap 100 penduduk perempuan terdapat 102 penduduk laki-laki.

LAJU PERTUMBUHAN PENDUDUKLaju pertumbuhan penduduk Provinsi Sulawesi Tengah per tahun selama kurun waktu sepuluh ta?hun terakhir yakni dari tahun 2000 ? 2010 adalah sebesar 1,94 persen. Laju pertumbuhan penduduk tertinggi terjadi di Kabupaten Poso yaitu sebesar 7,14 persen, kemudian diikuti Kabupaten Buol sebesar 2,31 persen dan Kabupaten Morowali sebesar 2,16 persen, sedangkan laju pertumbuhan penduduk yang terendah terjadi di Kabupaten Donggala yakni sebesar 1,03 persen. Kabupaten Parigi Moutong yang merupakan wilayah dengan jumlah penduduk terbanyak di Provinsi Sulawesi Tengah yang memiliki laju per?tumbuhan penduduk yang cukup tinggi yakni sebesar 1,95 persen (mendekati laju pertumbuhan penduduk Provinsi Sulawesi Tengah). Kota Palu yang merupakan satu-satunya wilayah perkotaan walaupun jumlah penduduknya menempati peringkat kedua namun laju pertum-buhannya berada di peringkat 6 yaitu sebesar 1,66 persen.

KEPADATAN PENDUDUKKota Palu merupakan wilayah dengan kepadatan yang paling besar yaitu rata-rata 849 orang per kilometer persegi, sedangkan wilayah dengan kepadatan penduduk terendah adalah Kabupaten Morowali sebanyak 13 orang per kilometer persegi. Jika dibandingkan dengan kepadatan penduduk Provinsi Sulawesi Tengah terdapat 4 kabupaten yang lebih tinggi yaitu Kabupaten Parigi Moutong (66 orang per kilometer persegi), Kabupaten Donggala (58 orang per kilometer persegi), Banggai Kepulauan (53 orang per kilometer persegi), dan Kabupaten Tolitoli (52 orang per kilometer persegi).

DISTRIBUSI PENDUDUKJumlah penduduk terbesar berada di Kabupaten Parigi Moutong yaitu sebanyak 15,71 persen (413.645 orang), kemudian diikuti Kota Palu sebanyak 12,73 persen (335.297 orang), Kabupaten Banggai sebanyak 12,30 persen (323.872 orang) dan Kabupaten Donggala sebanyak 10,53 persen (277.236 orang). Tujuh kabupaten lainnya masing-masing hanya memiliki distribusi penduduk Sulawesi Tengah di bawah 10 persen, yakni Kabupaten Sigi (8,15 persen), Kabupaten Tolitoli (8,02 persen), Kabupaten Poso (7,95 persen), Kabupaten Morowali (7,83 persen), Kabupaten Banggai Kepulauan (6,52 persen), Kabupaten Tojo Una-Una (5,24 persen), dan yang terkecil, Buol (5,03 persen).


PROFIL PROVINSI SULAWESI TENGAH

PERTANIAN
Pertanian merupakan sumber utama mata pencaharian penduduk Sulawesi Tengah dengan padi, kakao, kelapa, cengkeh dan ikan laut sebagai komoditi utama dan unggulan daerah. Oleh karena itu pembangunan sektor pertanian menjadi sangat penting dan menjadi prioritas Pemerintah Daerah Sulawesi Tengah.
Peranan sektor pertanian dalam perekonomian Sulawesi Tengah cenderung terus menguat sejalan dengan masih terbatasnya lapangan kerja non-pertanian dan meningkatnya nilai tukar petani (NTP). Pentingnya peranan sektor pertanian dapat dilihat dari sumbangan sektor ini terhadap pembentukan PDRB Sulawesi Tengah atas dasar harga konstan 2000 tahun 2006. Sektor pertanian memberikan sumbangan sebesar 45,61% dengan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi sebesar 3,46% (pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah tahun 2006 adalah 7,58%). Selain itu, berdasarkan hasil Location Quotient (LQ) analysis, sektor pertanian merupakan sektor unggulan Sulawesi Tengah dengan nilai LQ 3,14. Perlu diketahui juga bahwa sebagian besar unit usaha sektor pertanian adalah UMKM dan menyerap tenaga kerja cukup besar sehingga sangat strategis sebagai salah satu solusi untuk mengurangi angka pengangguran dan kemiskinan di Sulawesi Tengah.
Pertanian Tanaman Pangan
Komoditi tanaman pangan di Sulawesi Tengah antara lain padi, palawija (jagung, ibi kayu, ubi jalar, kacang tanah, kedelai dan kacang hijau), sayur-sayuran dan buah-buahan.
Angka produksi padi Sulawesi Tengah tahun 2005 sebanyak 716.905 ton, meningkat 3,16% jika dibandingkan dengan produksi padi tahun 2004 sebesar 694.921 ton. Peningkatan produksi tersebut disebabkan membaiknya produktifitas yaitu dari 39,48 kwintal/ha pada tahun 2004 menjadi 40,85 kwintal/ha. Namun demikian, terjadi penurunan luas panen yaitu dari 179.029 ha tahun 2004 menjadi 175.489 ha di tahun 2005. Penurunan tersebut diperkirakan akibat konversi sawah menjadi lahan perkebunan, terutama kakao, dibeberapa kabupaten sentra produksi padi. 
Sementara itu, produksi jagung Sulawesi Tengah tahun 2005 mengalami peningkatan sebesar 7,79% yaitu dari 53.452 ton tahun 2004 menjadi 57.617 ton tahun 2005. Untuk ubi kayu, produksi tahun 2005 tercatat sebesar 48.255 ton, naik 6,98% dibandingkan tahun 2004 sebesar 45.106 ton. Kenaikan produksi tanaman palawija terutama disebabkan adanya peningkatan luas panen.
Perkebunan
Kakao, kelapa dan cengkeh merupakan komoditas unggulan subsektor perkebunan Sulawesi Tengah. Luas areal tanaman kakao dari tahun ke tahun cenderung mengalami peningkatan. Berdasarkan data BPS Sulawesi Tengah, luas areal kakao tahun 2005 naik 12,11% yaitu dari 166.501 ha tahun 2004 menjadi 186.670 ha tahun 2005. Areal perkebunan kakao banyak terdapat di Kabupaten Donggala, Kabupaten Parigi Moutong, Kabupaten Poso, Kabupaten Morowali, Kabupaten Tojo Una-Una, Kabupaten Buol, Kabupaten Tolitoli, Kabupaten Banggai, dan Kabupaten Banggai Kepulauan.
Peningkatan luas areal kakao berpengaruh positif terhadap nilai ekspor antar negara
Sulawesi Tengah. Data Ditjen Bea dan Cukai menunjukkan bahwa nilai ekspor antar negara Sulawesi Tengah tahun 2006 tumbuh 51,44% dibandingkan tahun 2005 dengan nilai mencapai USD 202,16 juta, dan didominasi kelompok kopi, teh, coklat dan rempah-rempah (pengklasifikasian komoditi menggunakan Standard International Trade Classification) dengan pangsa sebesar 92,04% atau USD 186,07 juta.
Sementara itu, nilai ekonomi tanaman kelapa di Sulawesi Tengah tercatat cukup besar dengan luas lahan tahun 2005 mencapai 170.871 ha dan produksi 180.388 ton. Selain diolah menjadi kopra (daging buah), bagian tempurung kelapa dapat diolah menjadi arang dan sabut serta batang kelapa menjadi bahan baku industri yang bernilai tinggi. Potensi pengembangan tanaman kelapa di Sulawesi Tengah diperkirakan 40.000 ha. Untuk meningkatkan produksi kelapa, diperlukan peremajaan tanaman dengan klon unggul lokal, disamping ekstensifikasi. Dan tidak kalah pentingnya upaya diversifikasi produk akhir, perbaikan kualitas SDM, pembangunan infrastruktur dan perluasan pasar.
Selain kakao dan kelapa, komoditi unggulan daerah Sulawesi Tengah lainnya adalah cengkeh. Penghasil utama cengkeh di Sulawesi Tengah adalah Kabupaten Tolitoli. Selain itu, tanaman cengkeh terdapat di Kabupaten Parigi Moutong, Kabupaten Donggala dan beberapa kabupaten lainnya. Luas lahan perkebunan cengkeh tahun 2005 tercatat 47.374 ha dengan produksi 12.417 ton.
PerikananSulawesi Tengah memiliki perairan laut seluas 193.923,75 km2 yang tersebar di Teluk Tolo, Teluk Tomini, Selat Makasar dan Laut Sulawesi. Potensi sumberdaya ikan di perairan tersebut kurang lebih sebanyak 330.000 ton per-tahun. Sedangkan ikan yang bisa dikelola secara lestari sekitar 214.000 ton per-tahun. Di Teluk Tolo terdapat 68.000 ton per-tahun, Teluk Tomini 78.000 ton per-tahun, Selat Makasar dan Laut Sulawesi 68.000 ton per-tahun. Dari potensi ikan lestari tersebut jumlah ikan yang dapat ditangkap sebesar 217.280 ton per-tahun. Sementara itu, tingkat pemanfaatan sampai dengan saat ini baru mencapai 46,20%.
Jenis ikan yang terdapat di perairan Sulawesi Tengah antara lain ikan tuna, ikan cakalang, ikan kerapu, ikan taripang, ikan lajang dan udang. Potensi ikan pelagis besar untuk komoditi ekspor terutama ikan tuna sekitar 10.000 ton per-tahun dan ikan cakalang 14.000 ton per-tahun. Hasil laut lainnya yaitu biji mutiara, teripang, dan rumput laut. Selain perikanan tangkap, Sulawesi Tengah juga potensial untuk pengembangan perikanan budidaya seperti udang, ikan bandeng dan ikan kerapu.
PERTAMBANGAN
Provinsi Sulawesi Tengah memiliki sumberdaya bahan galian dan mineral antara lain mineral logam industri dan bahan bangunan serta bahan bakar fosil yaitu batubara dan minyak bumi. Bahan galian golongan A (strategis) antara lain minyak bumi dan gas bumi, batubara dan nikel. Bahan galian vital (golongan B) antara lain emas, molibdenum, chronit, tembaga dan belerang. Bahan galian golongan C (bukan strategis dan vital) meliputi sirtukil, granit, marmer, pasir kuarsa, pasir besi, lempung dan sebagainya.

PROFIL PROVINSI SULAWESI TENGAH

Taman Nasional Lore LinduTaman Nasional Lore Lindu merupakan salah satu lokasi perlindungan hayati terpenting di Pulau Sulawesi, khususnya Sulawesi Tengah. Taman Nasional Lore Lindu terletak sekitar 60 km selatan Kota Palu dan menjadi daerah tangkapan air bagi         3 sungai besar di Sulawesi Tengah yaitu Sungai Lariang, Sungai Gumbasa dan Sungai Palu. Luas Taman Nasional Lore Lindu sekitar 217.991 ha dengan ketinggian tempat bervariasi antara 200 sampai dengan 2.610 meter di atas permukaan laut.
Taman Nasional Lore Lindu memiliki fauna dan flora endemik Sulawesi serta panorama alam yang menarik karena terletak di garis Wallacea yang merupakan wilayah peralihan antara zona Asia dan Australia. Fauna seperti anoa, babi rusa, rusa, kera hantu, kuskus marsupial dan binatang khas lainnya hidup di taman ini. Taman Nasional Lore Lindu juga memiliki paling tidak 5 jenis bajing endemik, dan sedikitnya 55 jenis kelelawar serta lebih dari 230 jenis burung termasuk maelo dan enggang Sulawesi (rangkong atau burung allo).
Patung-patung megalit yang usianya mencapai ratusan bahkan ribuan tahun tersebar di kawasan Taman Nasional Lore Lindu seperti di Lembah Napu, Besoa dan Bada. Patung-patung tersebut merupakan monumen batu terbaik diantara patung-patung sejenis di Indonesia. Ada 5 klasifikasi patung berdasarkan bentuknya:
  1. Patung batu, patung ini biasanya memiliki ciri manusia, tetapi hanya kepala, bahu dan kelamin.
  2. Kalamba, peninggalan megalit yang banyak ditemukan dan menyerupai jambangan besar, kemungkinan tempat persediaan air atau tempat menaruh mayat pada upacara penguburan.
  3. Tutu'na, piringan-piringan dari batu, kemungkinan besar penutup kalamba.
  4. Batu Dakon: batu-batu berbentuk rata sampai cembung yang menggambarkan saluran-saluran, lubang-lubang tidak teratur dan lekukan-lekukan lain.
  5. Lainnya, mortar batu, tiang penyangga rumah dan beberapa bentuk lain.
Wisata Tirta/Bahari- Taman laut Teluk Tomori, Kecamatan Bungku Utara, Kabupaten Morowali
- Taman Laut Tanjung Api, Kecamatan Ampana, Kabupaten Tojo Una-Una
- Pantai Pasir Putih Siuri Danau Poso, Kecamatan Pamona Utara, Kabupaten Poso
Danau Poso di Tentena, Kecamatan Pamona Utara, Kabupaten Poso merupakan salah satu primadona objek wisata di Sulawesi Tengah. Letaknya sangat strategis di jantung Pulau Sulawesi dan mudah di jangkau dengan transportasi darat (jalur Trans Sulawesi). Danau Poso adalah perpaduan panorama pegunungan dan danau yang indah dan berhawa sejuk karena terletak pada ketinggian 650 meter di atas permukaan laut. Airnya jernih sepanjang tahun dengan pantai yang berpasir putih. Di sekitar Danau Poso masih terdapat beberapa objek wisata lainnya yang cukup menarik antara lain air luncur bertingkat 12 Saluopa, Air Terjun Sulewana, Taman Anggrek Hitam Bancea dan Goa Pamona.
- Taman Laut Kepulauan Togian, Kabupaten Tojo Una-Una
Taman Laut Kepulauan Togian terletak di Kecamatan Walea Kepulauan, adalah merupakan salah satu kawasan yang banyak menarik kunjungan wisatawan mancanegara karena keindahan alam kepulauan dan taman bawah laut.
- Pantai Pasir Putih Tanjung Karang, Kabupaten Donggala
Pantai Pasir Putih Tanjung Karang Donggala adalah pemandangan pantai pasir putih perpaduan panorama pegunungan dan taman laut yang sangat indah serta menarik.

Sekilas Tentang Kota Palu


Palu adalah sebuah kota sekaligus merupakan ibu kota provinsi Sulawesi Tengah, Indonesia. Palu terletak sekitar 1.650 km di sebelah timur laut Jakarta. Koordinatnya adalah 0°54′ LS 119°50′ BT. Penduduknya berjumlah 282.500 jiwa (2005).
Bersama dengan Poso, Palu telah beberapa kali menjadi target dalam konflik yang sedang berlangsung di Sulawesi. Pada November 2005, sepasang warga beragama Kristen ditembak dan dicederai di kota ini. Sebuah bom juga meledak di sebuah pasar yang khusus menjual daging babi pada 31 Desember 2005 dan menewaskan delapan orang serta mencederai 45 lainnya.


Pada tanggal 24 Januari 2005 pukul 04.10 WITA, gempa berkekuatan 6,2 pada Skala Richtermengguncang Palu. Pusat gempa terjadi di Kecamatan Biromaru, Kabupaten Donggala, 16 km arah tenggara Palu tepatnya di sekitar air panas Desa Bora, di kedalaman 30 km. Gempa itu berada pada 1°03′ LS - 119°99′ BT. Warga panik dan langsung mengungsi karena takut kemungkinan adanya tsunami seperti yang terjadi di Aceh. Sebagian dari mereka melarikan diri ke perbukitan dan pegunungan. Akibatnya, satu orang meninggal, empat orang cedera dan 177 bangunan rusak.
[sunting]

Kondisi Umum


Letak Geografi

Provinsi Sulawesi Tengah terletak diantara 2° 22’ Lintang Utara dan 4° 48’ Lintang Selatan serta 119° 22’ dan 124° 22’ Bujur Timur.
Batas-batas wilayahnya adalah sebagai berikut:
UtaraProvinsi Gorontalo
SelatanProvinsi Sulawesi Selatan dan Provinsi Sulawesi Tenggara
BaratSelat Makassar dan Provinsi Sulawesi Barat
TimurProvinsi Maluku
Provinsi Sulawesi Tengah yang dibentuk dengan Undang-Undang nomor 13 tahun 1964 terdiri dari wilayah daratan 68.033,00 km persegi dan wilayah lautan 189.408,00 km persegi. Secara administratif Sulawesi Tengah dibagi dalam 9 kabupaten, 1 kota madya dengan 85 kecamatan serta 1300 desa dan 132 kelurahan 91.432 desa/kelurahan.
Topografi wilayah daratan diklasifikasikan sebagai berikut:
  1. Lahan pertanian: 673.759 Ha (10,56%)
  2. Hutan lindung: 1.764.720 Ha (21,71%)
  3. Hutan suaka wisata: 604.780 Ha (9,49%)
  4. Hutan suaka tetap: 422.809 Ha (33,64%)
  5. Hutan produksi yang dapat dikonversi: 241.757 Ha (3,80%)
  6. Lahan pemukiman: 519.757 Ha (8,16%)
Berdasarkan elevasi (ketinggian) dataran di Sulawesi Tengah terdiri dari:
  • 0-100 M = 20,2%
  • 101-500 M = 27,2%
  • 501-1000 M = 26,7%
  • di atas 1001 M = 25,9%
Jarak antara ibukota provinsi ke daerah kabupaten:
No.Jarak AntaraKilometer
1Palu - Poso221 Km
2Palu - Luwuk607 Km
3Palu - Toli-Toli439 Km
4Palu - Donggala34 Km
5Palu - Parigi Moutong66 Km
6Palu - Morowali756 Km
7Palu - Buol806 Km
8Palu - Tojo Unauna300 Km


Kediaman controleur di masa Hindia Belanda (tahun 1930-an)
Kota Palu dibagi kepada 4 kecamatan dan 43 kelurahan. Kecamatan-kecamatan tersebut adalah:

]
Situs pariwisata

]
Dombu

Gunung Gawalise di barat kota Palu, kabupaten Donggala, berpotensi sebagai obyek wisata alam dan budaya yang menarik. Gunung Gawalise berjarak ± 34 kilometer dari Palu dan dapat ditempuh oleh kendaraan roda empat dalam kurun waktu ± 1 jam 30 menit. Di gunung Gawalise terdapat desa Dombu yang terletak di ketinggian dan berhawa sejuk. Desa lainnya adalah desa Matantimali, desa Panasibaja, desa Bolobia dan desa Rondingo.
Desa-desa ini didiami oleh suku Da'a. Suku Da'a merupakan sub-etnis suku Kaili yang mendiami daerah pegunungan. Di desa-desa ini dapat disaksikan atraksi sumpit yang diperagakan oleh warga setempat. Rumah di atas pohon masih ditemukan di desa Dombu sampai sekarang.
Di Gunung Gawalise dapat dilakukan hiking/trekking dengan rute-rute Wayu - Taipanggabe - Dombu - Wiyapore - Rondingo Kayumpia/Bolombia - Uemanje dalam waktu kurang dari 1 minggu.

]
Taman Nasional Lore Lindu

Taman Nasional Lore Lindu merupakan salah satu lokasi perlindungan hayati Sulawesi. Kawasan ini terletak sekitar 60 kilometer sebelah selatan kota Palu dan terletak antara 119°90’ - 120°16’ di sebelah timur dan 1°8’ - 1°3’ di sebelah selatan.

]
Hutan Wisata Danau Lindu

Hutan Wisata Danau Lindu termasuk dalam kategori wilayah Enclave Lindu dan termasuk bagian dari Wilayah Kecamatan Kulawi yang secara geografis terletak di dalam Kawasan Taman Nasional Lore Lindu, oleh karena itu semua desa di wilayah ini berbatasan langsung dengan TNLL.

Transportasi

]
Transportasi Udara

Kota Palu mempunyai sebuah bandara internasional, yaitu Bandara Mutiara.

]
Transportasi Darat

Transportasi darat di daerah ini antara lain:
  • Angkot
Di kota Palu terdapat sekitar 800 bus mini atau juga dikenal dengan sebutan angkot yang menjadi komuter utama di kota ini. Jumlah angkot di kota ini sering kali dianggap terlalu banyak mengingat kota ini hanya membutuhkan sekitar 500 angkot. Hal ini berarti terdapat 2 angkot untuk seorang komuter. Biaya Rp. 2.500,- untuk orang dewasa dan Rp. 1.000,- untuk pelajar. Uniknya, meskipun trayek angkot telah ditetapkan, setiap angkot dapat saja mengantar penumpang ke mana saja sepanjang supir angkot berkenan. Satu hal lagi yang unik adalah, angkot tersebut disebut sebagai "Taksi" oleh penduduk setempat.
  • Bus
Pada umumnya bus hanya digunakan untuk transportasi dalam skala besar dan bus tidak bersifat publik di dalam kota. Pada umumnya untuk skala antar kota.
  • Taksi
Taksi adalah komuter paling eksklusif di kota ini. Penduduk setempat menggunakan kata "argo" untuk menyebut komuter ini, mengacu pada argometer yang melengkapi setiap taksi.

Sejarah Sulawesi Tengah

Wilayah provinsi Sulawesi Tengah sebelum jatuh ke tangan Pemerintahan Hindia Belandamerupakan sebuah Pemerintahan Kerajaan yang terdiri atas 15 kerajaan di bawah kepemimpinan para raja yang selanjutnya dalam sejarah Sulawesi Tengah dikenal dengan julukan Tujuh Kerajaan di Timur dan Delapan Kerajaan di Barat.
Semenjak tahun 1905, wilayah Sulawesi Tengah seluruhnya jatuh ke tangan Pemerintahan Hindia Belanda, dari Tujuh Kerajaan di Timur dan Delapan Kerajaan di Barat, kemudian oleh Pemerintah Hindia Belanda dijadikan Landschap-landschap atau Pusat-pusat Pemerintahan Hindia Belanda yang meliputi, antara lain:
  1. Poso Lage di Poso
  2. Lore di Wianga
  3. Tojo di Ampana
  4. Pulau Una-una di Una-una
  5. Bungku di Bungku
  6. Mori di Kolonodale
  7. Banggai di Luwuk
  8. Parigi di Parigi
  9. Moutong di Tinombo
  10. Tawaeli di Tawaeli
  11. Banawa di Donggala
  12. Palu di Palu
  13. Sigi/Dolo di Biromaru
  14. Kulawi di Kulawi
  15. Tolitoli di Tolitoli
Dalam perkembangannya, ketika Pemerintahan Hindia Belanda jatuh dan sudah tidak berkuasa lagi di Sulawesi Tengah serta seluruh Indonesia, Pemerintah Pusat kemudian membagi wilayah Sulawesi Tengah menjadi 3 (tiga) bagian, yakni:
  1. Sulawesi Tengah bagian Barat, meliputi wilayah Kabupaten Poso, Kabupaten Banggai dan Kabupaten Buol Tolitoli. Pembagian wilayah ini didasarkan pada Undang-undang Nomor 29 Tahun 1959, tentang pembentukan Daerah-daerah Tingkat II di Sulawesi.
  2. Sulawesi Tengah bagian Tengah (Teluk Tomini), masuk Wilayah Karesidenan Sulawesi Utara di Manado. Pada tahun 1919, seluruh Wilayah Sulawesi Tengah masuk Wilayah Karesidenen Sulawesi Utara di Manado. Pada tahun 1940, Sulawesi Tengah dibagi menjadi 2 Afdeeling yaitu Afdeeling Donggala yang meliputi Tujuh Onder Afdeeling dan Lima Belas Swapraja.
  3. Sulawesi Tengah bagian Timur (Teluk Tolo) masuk Wilayah Karesedenan Sulawesi Timur Bau-bau.
Tahun 1964 dengan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 2 Tahun 1964 terbentuklah Daerah Tingkat I Sulawesi Tengah yang meliputi empat kabupaten yaitu Kabupaten Donggala, Kabupaten Poso, Kabupaten Banggai dan Kabupaten Buol Tolitoli. Selanjutnya Pemerintah Pusat menetapkan Propinsi Sulawesi Tengah sebagai Provinsi yang otonom berdiri sendiri yang ditetapkan dengan Undang-undang Nomor 13 Tahun 1964 tentang Pembentukan Provinsi Daerah Tingkat I Sulawesi Tengah dan selanjutnya tanggal pembentukan tersebut diperingati sebagai Hari Lahirnya Provinsi Sulawesi Tengah.
Dengan perkembangan Sistem Pemerintahan dan tutunan Masyarakat dalam era Reformasi yang menginginkan adanya pemekaran Wilayah menjadi Kabupaten, maka Pemerintah Pusat mengeluarkan kebijakan melalui Undang-undang Nomor 11 tahun 2000 tentang perubahan atas Undang-undang Nomor 51 Tahun 1999 tentang pembentukan Kabupaten Buol, Morowali dan Banggai Kepulauan. Kemudian melalui Undang-undang Nomor 10 Tahun 2002 oleh Pemerintah Pusat terbentuk lagi 2 Kabupaten baru di Provinsi Sulawesi Tengah yakni Kabupaten Parigi Moutong dan Kabupaten Tojo Una-Una. Kini berdasarkan pemekaran wilayah kabupaten, provinsi ini terbagi menjadi 10 daerah, yaitu 9 kabupaten dan 1 kota.
Sulawesi Tengah juga memiliki beberapa sungai, diantaranya sungai Lariang yang terkenal sebagai arena arung jeram, sungai Gumbasa dan sungai Palu. Juga terdapat danau yang menjadi obyek wisata terkenal yakni Danau Poso dan Danau Lindu.
Sulawesi Tengah memiliki beberapa kawasan konservasi seperti suaka alam, suaka margasatwa dan hutan lindung yang memiliki keunikan flora dan fauna yang sekaligus menjadi obyek penelitian bagi para ilmuwan dan naturalis.
Ibukota Sulawesi Tengah adalah Palu. Kota ini terletak di Teluk Palu dan terbagi dua oleh Sungai Palu yang membujur dari Lembah Palu dan bermuara di laut.

[sunting]Pemerintahan

[sunting]Kabupaten dan Kota

No.Kabupaten/KotaIbu kota
1Kabupaten BanggaiLuwuk
2Kabupaten Banggai KepulauanBanggai
3Kabupaten BuolBuol
4Kabupaten DonggalaDonggala
5Kabupaten MorowaliBungku
6Kabupaten Parigi MoutongParigi
7Kabupaten PosoPoso
8Kabupaten Tojo Una-UnaAmpana
9Kabupaten Toli-ToliToli-Toli
10Kabupaten SigiSigi Biromaru
11Kota Palu-

[sunting]Daftar gubernur

No.FotoNamaDariSampaiKeterangan
1.Anwar Gelar Datuk Madjo Basa Nan Kuning13 April 196413 April 1968 
2.Kol. Mohammad Yasin13 April 1968April 1973 
3.Brigjen Albertus Maruli TambunanApril 197328 September 1978 
4.Brigjen Moenafri, SH28 September 197822 Oktober 1979 
5.Kol. R. H. Eddy Djadjang Djajaatmadja22 Oktober 197922 Oktober 1980 
6.Mayjen H. Eddy SabaraNovember 1980Februari 1981Pejabat Gubernur
7.Drs. H. Ghalib Lasahido19 Desember 1981Februari 1986 
8.Abdul Aziz Lamadjido, SHFebruari 198616 Februari 1996 
9.Paliudju.JPGMayjen TNI (Purn). H. Bandjela Paliudju16 Februari 199620 Februari 2001periode pertama
10.Aminuddin ponulele.jpgProf. (Em) Drs. H. Aminuddin Ponulele, M.S.20 Februari 20012006 
11.Gumyadi200624 Maret 2006Penjabat Gubernur
12.Paliudju.JPGMayjen TNI (Purn). H. Bandjela Paliudju24 Maret 2006sekarangperiode kedua

[sunting]Perwakilan di Jakarta

[sunting]Anggota DPR dari Provinsi Sulawesi Tengah

  1. Syarifuddin Sudding, SH. MH. dari Partai Hati Nurani Rakyat
  2. Ir. H. Rendy Lamadjido dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan
  3. Akbar Zulfakar Sipanawa dari Partai Keadilan Sejahtera
  4. Murad U. Nasir dari Partai Golongan Karya
  5. Muhidin M. Said, SE. MBA. dari Partai Golongan Karya
  6. Verna Gladies Merry Inkiriwang dari Partai Demokrat

[sunting]Anggota DPD dari Provinsi Sulawesi Tengah

  • Nurmawati Dewi Bantilan, SE.
  • H. Sudarto, SH.
  • Ahmad Syaifullah Malonda, SH.
  • Shaleh Muhammad Aljufri, MA.

[sunting]Demografi

Penduduk asli Sulawesi Tengah terdiri atas 15 kelompok etnis atau suku, yaitu:
  1. Etnis Kaili berdiam di kabupaten Donggala dan kota Palu
  2. Etnis Kulawi berdiam di kabupaten Donggala
  3. Etnis Lore berdiam di kabupaten Poso
  4. Etnis Pamona berdiam di kabupaten Poso
  5. Etnis Mori berdiam di kabupaten Morowali
  6. Etnis Bungku berdiam di kabupaten Morowali
  7. Etnis Saluan atau Loinang berdiam di kabupaten Banggai
  8. Etnis Balantak berdiam di kabupaten Banggai
  9. Etnis Mamasa berdiam di kabupaten Banggai
  10. Etnis Taa berdiam di kabupaten Banggai
  11. Etnis Bare'e berdiam di kabupaten Touna
  12. Etnis Banggai berdiam di Banggai Kepulauan
  13. Etnis Buol mendiami kabupaten Buol
  14. Etnis Tolitoli berdiam di kabupaten Tolitoli
  15. Etnis Tomini mendiami kabupaten Parigi Moutong
  16. Etnis Dampal berdiam di Dampal, kabupaten Tolitoli
  17. Etnis Dondo berdiam di Dondo, kabupaten Tolitoli
  18. Etnis Pendau berdiam di kabupaten Tolitoli
  19. Etnis Dampelas berdiam di kabupaten Donggala
Disamping 12 kelompok etnis, ada beberapa suku hidup di daerah pegunungan seperti suku Da'a di Donggala, suku Wana di Morowali, suku Seasea di Banggai dan suku Daya di Buol Tolitoli. Meskipun masyarakat Sulawesi Tengah memiliki sekitar 22 bahasa yang saling berbeda antara suku yang satu dengan yang lainnya, namun masyarakat dapat berkomunikasi satu sama lain menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan bahasa pengantar sehari-hari.
Selain penduduk asli, Sulawesi Tengah dihuni pula oleh transmigran seperti dari Bali, Jawa, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur. Suku pendatang yang juga banyak mendiami wilayah Sulawesi Tengah adalah Bugis, Makasar dan Toraja serta etnis lainnya di Indonesia sejak awal abad ke 19 dan sudah membaur. Jumlah penduduk di daerah ini sekitar 2.128.000 jiwa yang mayoritas beragama Islam, lainnya Kristen, Hindu dan Budha. Tingkat toleransi beragama sangat tinggi dan semangat gotong-royong yang kuat merupakan bagian dari kehidupan masyarakat.
Pertanian merupakan sumber utama mata pencaharian penduduk dengan padi sebagai tanaman utama. Kopi, kelapa, kakao dan cengkeh merupakan tanaman perdagangan unggulan daerah ini dan hasil hutan berupa rotan, beberapa macam kayu seperti agatis, ebony dan meranti yang merupakan andalan Sulawesi Tengah.
Masyarakat yang tinggal di daerah pedesaan diketuai oleh ketua adat disamping pimpinan pemerintahan seperti Kepala Desa. Ketua adat menetapkan hukum adat dan denda berupa kerbau bagi yang melanggar. Umumnya masyarakat yang jujur dan ramah sering mengadakan upacara untuk menyambut para tamu seperti persembahan ayam putih, beras, telur serta tuak yang difermentasikan dan disimpan dalam bambu.

[sunting]Budaya

Sulawesi Tengah kaya akan budaya yang diwariskan secara turun-temurun. Tradisi yang menyangkut aspek kehidupan dipelihara dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Kepercayaan lama adalah warisan budaya yang tetap terpelihara dan dilakukan dalam beberapa bentuk dengan berbagai pengaruh modern serta pengaruh agama.
Karena banyak kelompok etnis mendiami Sulawesi Tengah, maka terdapat pula banyak perbedaan di antara etnis tersebut yang merupakan kekhasan yang harmonis dalam masyarakat. Mereka yang tinggal di pantai bagian barat kabupaten Donggala telah bercampur dengan masyarakat Bugis dari Sulawesi Selatan dan masyarakat Gorontalo. Di bagian timur pulau Sulawesi, juga terdapat pengaruh kuat Gorontalo dan Manado, terlihat dari dialek daerah Luwuk dan sebaran suku Gorontalo di kecamatan Bualemo yang cukup dominan.
Ada juga pengaruh dari Sumatera Barat seperti nampak dalam dekorasi upacara perkawinan. Kabupaten Donggala memiliki tradisi menenun kain warisan zaman Hindu. Pusat-pusat penenunan terdapat di Donggala Kodi, Watusampu, Palu, Tawaeli dan Banawa. Sistem tenun ikat ganda yang merupakan teknik spesial yang bermotif Bali, India dan Jepang masih dapat ditemukan.
Sementara masyarakat pegunungan memiliki budaya tersendiri yang banyak dipengaruhi suku Toraja, Sulawesi Selatan. Meski demikian, tradisi, adat, model pakaian dan arsitektur rumah berbeda dengan Toraja, seperti contohnya ialah mereka menggunakan kulit beringin sebagai pakaian penghangat badan. Rumah tradisional Sulawesi Tengah terbuat dari tiang dan dinding kayu yang beratap ilalang dan hanya memiliki satu ruang besar. Lobo atau duhunga merupakan ruang bersama atau aula yang digunakan untuk festival atau upacara, sedangkan Tambi merupakan rumah tempat tinggal. Selain rumah, ada pula lumbung padi yang disebut Gampiri.
Buya atau sarung seperti model Eropa hingga sepanjang pinggang dan keraba semacam blus yang dilengkapi dengan benang emas. Tali atau mahkota pada kepala diduga merupakan pengaruh kerajaan Eropa. Baju banjara yang disulam dengan benang emas merupakan baju laki-laki yang panjangnya hingga lutut. Daster atau sarung sutra yang membujur sepanjang dada hingga bahu, mahkota kepala yang berwarna-warni dan parang yang diselip di pinggang melengkapi pakaian adat.

[sunting]Kesenian

Musik dan tarian di Sulawesi Tengah bervariasi antara daerah yang satu dengan lainnya. Musik tradisional memiliki instrumen seperti suling, gong dan gendang. Alat musik ini lebih berfungsi sebagai hiburan dan bukan sebagai bagian ritual keagamaan. Di wilayah beretnis Kaili sekitar pantai barat - waino - musik tradisional - ditampilkan ketika ada upacara kematian. Kesenian ini telah dikembangkan dalam bentuk yang lebih populer bagi para pemuda sebagai sarana mencari pasangan di suatu keramaian. Banyak tarian yang berasal dari kepercayaan keagamaan dan ditampilkan ketika festival.
Tari masyarakat yang terkenal adalah Dero yang berasal dari masyarakat Pamona, kabupaten Poso dan kemudian diikuti masyarakat Kulawi, kabupaten Donggala. Tarian dero khusus ditampilkan ketika musim panen, upacara penyambutan tamu, syukuran dan hari-hari besar tertentu. Dero adalah salah satu tarian dimana laki-laki dan perempuan berpegangan tangan dan membentuk lingkaran. Tarian ini bukan warisan leluhur tetapi merupakan kebiasaan selama pendudukan jepang di Indonesia ketika Perang Dunia II.

[sunting]Agama

Penduduk Sulawesi Tengah sebagian besar memeluk agama Islam. Tercatat 72.36% penduduknya memeluk agama Islam, 24.51% memeluk agama Kristen dan 3.13% memeluk agama Hindu serta Budha. Islam disebarkan di Sulawesi Tengah oleh Datuk Karamah, seorang ulama dari Sumatera Barat dan diteruskan oleh Al Alimul Allamah Al-Habib As Sayyed Idrus bin Salim Al Djufri, seorang guru pada sekolah Alkhairaat dan juga diusulkan sebagai Pahlawan nasional. Salah seorang cucunya yang bernama Salim Assegaf Al Jufri menduduki jabatan sebagai Menteri Sosial saat ini.
Agama Kristen pertama kali disebarkan di kabupaten Poso dan bagian selatan Donggala oleh missioner Belanda, A.C Cruyt dan Adrian.

[sunting]lklim

Garis khatulistiwa yang melintasi semenanjung bagian utara di Sulawesi Tengah membuat iklim daerah ini tropis. Akan tetapi berbeda dengan Jawa dan Bali serta sebagian pulau Sumatera, musim hujan di Sulawesi Tengah antara bulan April dan September sedangkan musim kemarau antara Oktober hingga Maret. Rata-rata curah hujan berkisar antara 800 sampai 3.000 milimeter per tahun yang termasuk curah hujan terendah di Indonesia.
Temperatur berkisar antara 25 sampai 31° Celsius untuk dataran dan pantai dengan tingkat kelembaban antara 71 sampai 76%. Di daerah pegunungan suhu dapat mencapai 16 sampai 22' Celsius.

[sunting]Flora dan Fauna

Sulawesi merupakan zona perbatasan unik di wilayah Asia Oceania, dimana flora dan faunanya berbeda jauh dengan flora dan fauna Asia yang terbentang di Asia dengan batas Kalimantan, juga berbeda dengan flora dan fauna Oceania yang berada di Australia hingga Papua dan Pulau Timor. Garis maya yang membatasi zona ini disebut Wallace Line, sementara kekhasan flora dan faunanya disebut Wallacea, karena teori ini dikemukakan oleh Wallace seorang peneliti Inggris yang turut menemukan teori evolusi bersama Darwin. Sulawesi memiliki flora dan fauna tersendiri. Binatang khas pulau ini adalah anoa yang mirip kerbau, babirusa yang berbulu sedikit dan memiliki taring pada mulutnya, tersier, monyet tonkena Sulawesi, kuskus marsupial Sulawesi yang berwarna-warni yang merupakan varitas binatang berkantung serta burung maleo yang bertelur pada pasir yang panas.
Hutan Sulawesi juga memiliki ciri tersendiri, didominasi oleh kayu agatis yang berbeda dengan Sunda Besar yang didominasi oleh pinang-pinangan (spesies rhododenron). Variasi flora dan fauna merupakan obyek penelitian dan pengkajian ilmiah. Untuk melindungi flora dan fauna, telah ditetapkan taman nasional dan suaka alam seperti Taman Nasional Lore Lindu, Cagar Alam Morowali, Cagar Alam Tanjung Api dan terakhir adalah Suaka Margasatwa di Bangkiriang.

[sunting]Senjata Tradisional

Senjata tradisional masyarakat Sulawesi Tengah adalah Parang (Guma).